Hati-hati menuliskan status di wall facebook seseorang jika tidak ingin berurusan dengan hukum. Seorang mahasiswa Universitas Jember (Unej) harus duduk di kursi pesakitan, karena menulis status caci maki.
Muhammad Wahyu Muharom (22), mahasiswa Fakultas Hukum ini didakwa mencemarkan nama baik Tri Basuki, seorang pelatih Jember Marching Band (JMB) baik lisan dan tulisan di wall facebook. Wahyu pun oleh JPU dikenai pasal pasal 310 KUHP dan 311 KUHP saat sidang di Pengadilan Negeri Jember, Kamis (18/2/2010).
Caci maki Wahyu kepada Tri Basuki dilakukan lewat facebook. Wahyu menuliskan serangkaian sumpah serapah dan kata kotor terhadap Tri, pada medio Oktober - Nopember 2009 lalu.
Jaksa Penuntut Umum, Lusiana, tidak mendakwa Wahyu dengan UU Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), karena pihak kepolisian tidak menggunakan pasal itu.
"Jadi kami juga pakai KUHP," ujar Lusi.
Tri Basuki melaporkan Wahyu yang juga menjadi anak didiknya di JMB ke polisi karena kesal dengan perbuatannya. Ia menuliskan beberapa kata makian dan tuduhan pada statusnya di facebook.
Meski sebelum masuk ke persidangan, Tri Basuki dan Wahyu sudah saling memaafkan, namun tidak menghentikan kasus itu di muka hukum. Wahyu tetap terancam hukuman 4 tahun penjara.
Kamis, 18 Februari 2010
Sapi Berkepala Mirip Manusia Lahir di Madura
Seekor anak sapi di Sampang, Madura, Jawa Timur, terlahir dengan kondisi kepala mirip manusia.
Menurut Narto, petani pemilik sapi warga Desa Sumber, Kecamatan Tambelangan di Sampang, Kamis, anak sapi itu berjenis kelamin jantan, berkepala bundar, berdahi, lengkap dengan pusar kepala dan bulu di sekitar kepala berwarna hitam, layaknya rambut kepala manusia.
Anak sapi yang lahir pada Senin (15/2) dini hari, lebih kurang pukul 03.00 WIB tidak mau makan rumput layaknya anak sapi pada biasanya, namun hanya makan makanan yang biasa dimakan oleh manusia.
"Kami sudah mencoba memberi rumput, tapi tidak mau. Tapi ketika kami coba kasih nasi justru mau," kata Narto.
Belum ada penjelasan secara ilmiah dari Dinas Peternakan Sampang tentang sapi milik petani Narto yang lahir dengan kepala mirip manusia tersebut.
Warga dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Tambelangan terus berdatangan guna melihat keanehan sapi yang oleh sebagian orang diyakini sebagai sapi ajaib tersebut.
Menurut Narto, petani pemilik sapi warga Desa Sumber, Kecamatan Tambelangan di Sampang, Kamis, anak sapi itu berjenis kelamin jantan, berkepala bundar, berdahi, lengkap dengan pusar kepala dan bulu di sekitar kepala berwarna hitam, layaknya rambut kepala manusia.
Anak sapi yang lahir pada Senin (15/2) dini hari, lebih kurang pukul 03.00 WIB tidak mau makan rumput layaknya anak sapi pada biasanya, namun hanya makan makanan yang biasa dimakan oleh manusia.
"Kami sudah mencoba memberi rumput, tapi tidak mau. Tapi ketika kami coba kasih nasi justru mau," kata Narto.
Belum ada penjelasan secara ilmiah dari Dinas Peternakan Sampang tentang sapi milik petani Narto yang lahir dengan kepala mirip manusia tersebut.
Warga dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Tambelangan terus berdatangan guna melihat keanehan sapi yang oleh sebagian orang diyakini sebagai sapi ajaib tersebut.
Profesor Tersandung Plagiat, Unpar Minta Maaf
VIVAnews - Universitas Khatolik Parahyangan Bandung menyampaikan permintaan maaf atas tindakan plagiarisme yang telah dilakukan salah satu dosennya, Profesor Anak Agung Banyu Perwita. Permintaan maaf itu disampaikan secara tertulis dalam pernyataan resminya.
“Yayasan Universitas Khatolik Parahyangan dengan ini menyampaikan penyesalan dan mohon maaf atas terjadinya tindakan plagiarisme yang dilakukan Profesor Anak Agung Banyu Perwita, PhD," kata Rektor Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Cecilia Lauw, Rabu 17 Februari 2010.
Sekali pun tindakan tersebut merupakan tanggung jawab dirinya Banyu, pihak kampus menilai tetap harus meminta maaf karena saat kasus itu terjadi Banyu masih berstatus dosen tetap.
Selain itu, kata Cecilia, pihaknya juga menyadari, tindakan plagiarisme yang dilakukan Banyu ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi yang berada di Jalan Ciumbuleuit Bandung itu.
“Ini menjadi pelajaran untuk mawas diri seraya mewujudkan peningkatan integritas keunggulan akademik dan etik, keserasian antara identitas yang disandangnya dengan aktivitas yang dilakukannya, serta kesepadanan antara apa yang diajarkan dengan apa yang dikerjakan,” katanya.
Universitas Khatolik Parahyangan Bandung akhirnya memberhentikan Anak Agung Banyu Perwita sebagai dosen di perguruan tinggi itu. Keputusan ini diambil setelah Pengurus Yayasan Universitas Katolik Parahyangan menggelar rapat pada Selasa malam.
“Pengurus Yayasan Khatolik Parahyangan menerima pengunduran diri Anak Agung Banyu Perwita sebagai dosen tetap,” ujar Cecilia.
Menurut Cecilia, pemberhentian ini sebagai respon atas surat pengunduran diri Banyu yang sudah diajukan kepada rektor pada tanggal 8 Februari lalu. “Pengunduran diri ini diajukan dengan sadar sebagai pertanggungjawaban atas kesalahannya melakukan tindakan plagiarisme,” ujar Cecilia.
Dengan begitu, kata dia, terhitung sejak tanggal 16 Februari 2010, Banyu tidak lagi memiliki hubungan kerja dengan Yayasan Universitas Khatolik Parahyangan. “Pemberhentian ini akan segera dilaporkan ke Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional,” katanya.
Kasus plagiarisme yang dilakukan Banyu ini mencuat setelah artikelnya berjudul “RI as a new middle power?” yang dimuat di harian The Jakarta Post ternyata sama dengan artikel yang ditulis Carl Ungerer, peneliti asal Australia. Tulisan Ungerer berjudul “The ‘Middle Power’ Concept in Australian Foreign Policy” diterbitkan dalam Australian Journal of Politics and History: Volume 53, Number 4, 2007. Harian ini lalu mencabut artikel itu.
“Yayasan Universitas Khatolik Parahyangan dengan ini menyampaikan penyesalan dan mohon maaf atas terjadinya tindakan plagiarisme yang dilakukan Profesor Anak Agung Banyu Perwita, PhD," kata Rektor Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Cecilia Lauw, Rabu 17 Februari 2010.
Sekali pun tindakan tersebut merupakan tanggung jawab dirinya Banyu, pihak kampus menilai tetap harus meminta maaf karena saat kasus itu terjadi Banyu masih berstatus dosen tetap.
Selain itu, kata Cecilia, pihaknya juga menyadari, tindakan plagiarisme yang dilakukan Banyu ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi yang berada di Jalan Ciumbuleuit Bandung itu.
“Ini menjadi pelajaran untuk mawas diri seraya mewujudkan peningkatan integritas keunggulan akademik dan etik, keserasian antara identitas yang disandangnya dengan aktivitas yang dilakukannya, serta kesepadanan antara apa yang diajarkan dengan apa yang dikerjakan,” katanya.
Universitas Khatolik Parahyangan Bandung akhirnya memberhentikan Anak Agung Banyu Perwita sebagai dosen di perguruan tinggi itu. Keputusan ini diambil setelah Pengurus Yayasan Universitas Katolik Parahyangan menggelar rapat pada Selasa malam.
“Pengurus Yayasan Khatolik Parahyangan menerima pengunduran diri Anak Agung Banyu Perwita sebagai dosen tetap,” ujar Cecilia.
Menurut Cecilia, pemberhentian ini sebagai respon atas surat pengunduran diri Banyu yang sudah diajukan kepada rektor pada tanggal 8 Februari lalu. “Pengunduran diri ini diajukan dengan sadar sebagai pertanggungjawaban atas kesalahannya melakukan tindakan plagiarisme,” ujar Cecilia.
Dengan begitu, kata dia, terhitung sejak tanggal 16 Februari 2010, Banyu tidak lagi memiliki hubungan kerja dengan Yayasan Universitas Khatolik Parahyangan. “Pemberhentian ini akan segera dilaporkan ke Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional,” katanya.
Kasus plagiarisme yang dilakukan Banyu ini mencuat setelah artikelnya berjudul “RI as a new middle power?” yang dimuat di harian The Jakarta Post ternyata sama dengan artikel yang ditulis Carl Ungerer, peneliti asal Australia. Tulisan Ungerer berjudul “The ‘Middle Power’ Concept in Australian Foreign Policy” diterbitkan dalam Australian Journal of Politics and History: Volume 53, Number 4, 2007. Harian ini lalu mencabut artikel itu.
Polisi Kalah Lawan Hipnosis Selly
Penipu Selly Yustiawati pernah digelandang ke Polsek Tanah Abang, namun bisa bebas melenggang. Polisi dinilai belum cukup ilmu menghadapi Selly yang diduga secara alami berbakat hipnosis.
Menurut pakar hipnoterapi Mardigu WP, Selly cukup mengontrol orang lewat ucapan. Tidak perlu Selly menepuk atau membuat targetnya tidur seperti gaya Romi Rafael.
"Penyidik biasa nggak cukup, bisa kena dipengaruhi Selly," kata Mardigu kepada detikcom, Rabu (17/2/2010).
Mardigu mengatakan untuk menghadapi pelaku dengan kondisi kejiwaan seperti Selly, penyidik butuh pendamping. Pendamping ini bisa psikolog atau polisi berlatar belakang psikologi.
"Harus ada psikolog atau penyidik berlatar belakang psikologi," tambahnya.
Pada 7 Januari 2010, Selly pernah digelandang ke Polsek Tanah Abang setelah dijebak karyawan Kompas yang menjadi korbannya. Korban lain dari Hotel Gran Mahakam dan lain-lain ikut merubung Selly di Polsek itu. Polisi pun sudah pasti siaga.
Namun Selly kembali bercuap-cuap kepada polisi. Alih-alih membuat laporan kasus penipuan, Selly hanya diminta membuat surat perjanjian. Selly pun melenggang pulang.
"Orang berkumpul satu Polsek pun bisa dia pengaruhi," pungkas Mardigu.
Menurut pakar hipnoterapi Mardigu WP, Selly cukup mengontrol orang lewat ucapan. Tidak perlu Selly menepuk atau membuat targetnya tidur seperti gaya Romi Rafael.
"Penyidik biasa nggak cukup, bisa kena dipengaruhi Selly," kata Mardigu kepada detikcom, Rabu (17/2/2010).
Mardigu mengatakan untuk menghadapi pelaku dengan kondisi kejiwaan seperti Selly, penyidik butuh pendamping. Pendamping ini bisa psikolog atau polisi berlatar belakang psikologi.
"Harus ada psikolog atau penyidik berlatar belakang psikologi," tambahnya.
Pada 7 Januari 2010, Selly pernah digelandang ke Polsek Tanah Abang setelah dijebak karyawan Kompas yang menjadi korbannya. Korban lain dari Hotel Gran Mahakam dan lain-lain ikut merubung Selly di Polsek itu. Polisi pun sudah pasti siaga.
Namun Selly kembali bercuap-cuap kepada polisi. Alih-alih membuat laporan kasus penipuan, Selly hanya diminta membuat surat perjanjian. Selly pun melenggang pulang.
"Orang berkumpul satu Polsek pun bisa dia pengaruhi," pungkas Mardigu.
Sadis! Ibu Bunuh Balita dengan Cairan Asam Beracun
Iman Omar Yousef alias Niman Mohamood harus dituntut di pengadilan. Yousef terkena tuduhan membunuh anak balitanya dengan memberi minum cairan asam beracun.
Yousef ditangkap pada Selasa (16/2/2010) lalu dan menghadapi sidang perdana di Pengadilan Sutton Coldfield pada Rabu (17/2/2010).
Anak balita Yousef, Alia Ahmed Jama (3), ditemukan tewas di rumahnya di Milverton Road, Erdington, Birmingham, Inggris pada Sabtu 13 Februari 2010 pagi pukul 17.30 waktu setempat seperti dilansir dari dailymail, Kamis (18/2/2010).
Diduga gadis cilik itu minum atau menghirup cairan asam sehingga badannya ditemukan luka bakar dengan cairan berbahaya.
Tim forensik kepolisian setempat masih melakukan investigasi di rumah Yousef untuk menemukan cairan apa yang digunakan dan apa yang menyebabkan kematian Alia.
"Tes medis dan forensik berlanjut hari ini untuk menemukan substansi dan penyebab kematian Ali," demikian dikatakan juru bicara kepolisian.
Sementara pemeriksaan post-mortem telah gagal menemukan penyebab kematian Alia.
Yousef ditangkap pada Selasa (16/2/2010) lalu dan menghadapi sidang perdana di Pengadilan Sutton Coldfield pada Rabu (17/2/2010).
Anak balita Yousef, Alia Ahmed Jama (3), ditemukan tewas di rumahnya di Milverton Road, Erdington, Birmingham, Inggris pada Sabtu 13 Februari 2010 pagi pukul 17.30 waktu setempat seperti dilansir dari dailymail, Kamis (18/2/2010).
Diduga gadis cilik itu minum atau menghirup cairan asam sehingga badannya ditemukan luka bakar dengan cairan berbahaya.
Tim forensik kepolisian setempat masih melakukan investigasi di rumah Yousef untuk menemukan cairan apa yang digunakan dan apa yang menyebabkan kematian Alia.
"Tes medis dan forensik berlanjut hari ini untuk menemukan substansi dan penyebab kematian Ali," demikian dikatakan juru bicara kepolisian.
Sementara pemeriksaan post-mortem telah gagal menemukan penyebab kematian Alia.
"Mayat" Hidup Lagi di Rumah Pemakaman Kolombia
Bogota (ANTARA/AFP) - Para pekerja di rumah pemakaman di kota Cali, Kolombia, terkejut "setengah mati" ketika seorang perempuan yang berusia 45 tahun dan tampak sudah meninggal tiba-tiba mulai bernapas dan bergerak sewaktu mereka bersiap menguburnya.
Media setempat memberitakan perempuan itu telah dinyatakan meninggal secara klinis di satu instalasi medis, Selasa, setelah dirawat karena kondisi serius pada syarafnya sehari sebelumnya.
"Peralatan yang dipasang pada pasien tersebut tak menunjukkan adanya tekanan darah atau catatan detak jantung," kata Miguel Angel Saavedra, dokter di klinik tempat perempuan itu dirawat.
Staf medis di instalasi tersebut menandatangani surat kematian perempuan itu dan mayatnya dibawa ke rumah pemakaman untuk persiapan pemakaman.
Tetapi, dalam kasus yang oleh para dokter disebut "Lazarus Syndrome", perempuan tersebut tidak benar-benar meninggal.
"Ketika mereka akan melakukan formaldehida, pasien itu mulai bernapas lagi dan bergerak," kata Saavedra kepada media setempat.
Perempuan tersebut, yang namanya tak disebutkan, dibawa kembali ke rumah sakit dan berada dalam keadaan koma, kata dokter.
Media setempat memberitakan perempuan itu telah dinyatakan meninggal secara klinis di satu instalasi medis, Selasa, setelah dirawat karena kondisi serius pada syarafnya sehari sebelumnya.
"Peralatan yang dipasang pada pasien tersebut tak menunjukkan adanya tekanan darah atau catatan detak jantung," kata Miguel Angel Saavedra, dokter di klinik tempat perempuan itu dirawat.
Staf medis di instalasi tersebut menandatangani surat kematian perempuan itu dan mayatnya dibawa ke rumah pemakaman untuk persiapan pemakaman.
Tetapi, dalam kasus yang oleh para dokter disebut "Lazarus Syndrome", perempuan tersebut tidak benar-benar meninggal.
"Ketika mereka akan melakukan formaldehida, pasien itu mulai bernapas lagi dan bergerak," kata Saavedra kepada media setempat.
Perempuan tersebut, yang namanya tak disebutkan, dibawa kembali ke rumah sakit dan berada dalam keadaan koma, kata dokter.
Dikira Telah Meninggal, Wanita 45 Tahun Bernafas Kembali
Orang mati bisa hidup kembali? Kegemparan terjadi di rumah duka di Kota Cali, Colombia. Para pekerja di rumah duka tersebut terkejut ketika seorang wanita yang tampak sudah meninggal tiba-tiba saja bernafas kembali.
Tubuh wanita berumur 45 tahun itu terlihat bergerak-gerak. Padahal ketika itu mereka sedang menyiapkan jasadnya untuk dimakamkan.
Media lokal memberitakan, secara klinis wanita itu telah dinyatakan meninggal di sebuah fasilitas medis pada Selasa, 16 Februari waktu setempat. Sehari sebelumnya wanita itu dimasukkan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
"Instrumen-instrumen yang terhubung ke pasien tidak lagi memperlihatkan catatan tekanan darah ataupun detak jantung," kata Miguel Angel Saavedra, seorang dokter di rumah sakit tempat wanita itu dirawat.
Staf medis di rumah sakit tersebut telah menandatangani surat kematian wanita yang tidak disebutkan namanya itu. Tubuhnya kemudian dikirimkan ke rumah duka untuk persiapan penguburan.
Namun ternyata wanita itu tidak benar-benar meninggal.
"Ketika mereka akan memberikan formalin, pasien mulai bernafas lagi dan membuat gerakan-gerakan," ujar Saavedra seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (17/2/2010).
Setelah kejadian mencengangkan itu, wanita tersebut dikirimkan kembali ke rumah sakit. Menurut para dokter, saat ini dia masih dalam kondisi koma.
Tubuh wanita berumur 45 tahun itu terlihat bergerak-gerak. Padahal ketika itu mereka sedang menyiapkan jasadnya untuk dimakamkan.
Media lokal memberitakan, secara klinis wanita itu telah dinyatakan meninggal di sebuah fasilitas medis pada Selasa, 16 Februari waktu setempat. Sehari sebelumnya wanita itu dimasukkan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
"Instrumen-instrumen yang terhubung ke pasien tidak lagi memperlihatkan catatan tekanan darah ataupun detak jantung," kata Miguel Angel Saavedra, seorang dokter di rumah sakit tempat wanita itu dirawat.
Staf medis di rumah sakit tersebut telah menandatangani surat kematian wanita yang tidak disebutkan namanya itu. Tubuhnya kemudian dikirimkan ke rumah duka untuk persiapan penguburan.
Namun ternyata wanita itu tidak benar-benar meninggal.
"Ketika mereka akan memberikan formalin, pasien mulai bernafas lagi dan membuat gerakan-gerakan," ujar Saavedra seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (17/2/2010).
Setelah kejadian mencengangkan itu, wanita tersebut dikirimkan kembali ke rumah sakit. Menurut para dokter, saat ini dia masih dalam kondisi koma.
Langganan:
Postingan (Atom)

