Sabtu, 11 September 2010

Umat Kristen dan Yahudi Tolak Bakar Qur'an

Evangelis bukanlah sekte besar di Amerika Serikat. Namun pernyataan pendeta Terry Jones, pimpinan sekte berbasis di Florida ini, menyentak umat beragama di dunia, khususnya kaum Muslim. Ia merencanakan pembakaran Al-Qur'an.

Pada 11 September nanti, persis pada hari peringatan aksi terorisme yang meluluhlantakkan menara kembar World Trade Center di New York sembilan tahun silam, Terry akan memimpin aksi pembakaran Al-Qur'an itu. Kebetulan pada tanggal itu pula masyarakat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Fitri.

Aksi provokatif Terry Jones itu memancing gelombang protes di seluruh dunia. Bukan saja kaum Muslim yang meradang, tapi juga umat beragama lain menunjukkan penolakan mereka atas aksi ngawur Terry Jones. Umat Kristen dan Yahudi, misalnya, membuat pernyataan mengutuk rencana itu.

Pendeta Dr Michael Kinnamon, sekretaris jenderal Dewan Gereja Amerika Serikat kembali menegaskan sikap penentangan atas aksi itu. Kata dia, pernyataan ini mewakili jutaan warga AS yang menolak ekspresi anti-muslim yang ditunjukkan sekte itu.

Tindakan membakar Al- Qur'an, ujar Kinnamon, adalah reaksi orang yang ketakutan sekaligus salah paham terhadap sifat sejati ajaran Islam yang damai. "Kesalahpahaman dan bingung, juga ketidakmampuan mencintai tetangga kita seperti dicontohkan Kristus, itu yang ditunjukkan sekte tersebut ketika melecehkan kaum Muslim dan merencanakan ‘Hari Internasional Pembakaran Qur'an," kata dia, seperti dimuat situs CSmonitor, 6 September 2010. "Tindakan penuh kebencian tersebut bukan kesaksian atas iman Kristiani," Kinnamon menambahkan.

Umat Yahudi punya cara lain untuk menunjukkan sikapnya menentang rencana Jones. Rabi Arthur Waskow dari Shalom Centre di Kota Philadelphia meminta para umat Yahudi  turut membaca sejumlah kutipan Al-Qur'an sebagai rasa hormat kepada kitab suci kaum Muslim itu.

Pembacaan Al-Qur'an akan berlangsung di tengah ibadah Sabat pada Sabtu mendatang, atau bersamaan rencana pembakaran Al-Quran oleh Jones. "Banyak komunitas dan organisasi keagamaan dan kelompok-kelompok sekuler menentang ide pembakaran itu," kata Waskow di laman Shalom Center.

Di Indonesia para tokoh lintas agama juga tidak tinggal diam. Mereka menggelar pertemuan akhir pekan lalu. Pertemuan dihadiri Ketua Umum Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Andreas A Yewangoe,  Habib Rizieq Syihab dari Front Pembela Islam (FPI), Mgr Johannes Pujasumarta dan Mgr P Mandagi dari Komisi Waligereja Indonesia (KWI), serta sejumlah tokoh lintas agama lainnya. Mereka menolak mentah-mentah rencana Jones.  Perbuatan Jones disepakati sebagai perbuatan hina dan sesat.

"Saat ini peradaban sudah berbeda. Bakar membakar itu peradaban masa lampau," kata Ketua Umum PGI Andreas A Yewangoe kepada VIVAnews, Selasa 7 September 2010.

Tak hanya kesepakatan dan seruan agar rencana itu diurungkan. PGI juga melakukan langkah riil dengan melayangkan surat kepada Presiden AS Barack Obama dan organisasi-organisasi gereja di AS agar menggunakan kuasanya mencegah terjadinya peristiwa yang akan melukai umat Islam dan umat beragama lainnya di Indonesia. Surat itu sudah dikirimkan dua pekan lalu.

Selain kaum agamis, niat Jones juga ditentang kalangan militer. Militer AS khawatir aksi Jones bakal mengancam keselamatan serdadu AS yang berada di Afghanistan. Saat ini saja rencana gila Jones itu semakin mempertajam sentimen anti Amerika di sana. Hal ini ditandai dengan pembakaran bendera AS.

Panglima militer AS di Afghanistan, Jenderal David Petraeus, yang baru beberapa bulan bertugas, melihat hal ini sebagai ancaman serius bagi tugas mereka di Afghanistan.  “Ini akan membahayakan tentara kita, dan mengancam keberhasilan usaha kita di sini,” ujar Petraeus.

Akan halnya Jones, ia menegaskan, langkahnya membakar Al-Quran tak akan surut. Dia bahkan bersumpah  tetap melancarkan rencananya, tidak memedulikan masalah yang akan dihadapi tentara negaranya di Afghanistan.

Jangan Terprovokasi


Meski Jones masih keras kepala, Din Syamsudin selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah mengaku bersyukur, dan memberi penghargaan karena sebagian besar kalangan di Amerika Serikat, termasuk gereja dan organisasi Kristiani, menolak rencana pembakaran Al-Qur'an oleh kelompok Jones.

"Berarti ini tidak bisa digeneralisasi, dan memang jangan digeneralisasikan sebagai sikap AS atas kelompok Islam," kata tokoh lintas agama ini.

Din mengaku sudah dapat konfirmasi langsung dari pemerintah AS bahwa mereka pun menolak rencana Jones. "Obama sangat-sangat menentang rencana pembakaran ini," kata Din kepada VIVAnews.
Oleh karena itu,  Din meminta umat Islam, khususnya di Indonesia, tidak perlu bereaksi berlebihan, apalagi sampai menimbulkan pertentangan. "Biarlah ada orang lain yang berpikir tidak rasional. Kita harus tetap kedepankan akal pikiran dan hati nurani, dan jangan terprovokasi."

Din juga mengingatkan satu hal kepada masyarakat Muslim di Indonesia. "Pembakaran Al-Quran tidak akan mengurangi makna Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi dan juga umat Islam tidak terkurangi sedikit pun karena kejahatan terhadap Islam ini," tuturnya.

Tidak ada komentar: